Posted in Random Thing

Jodoh Kalila

Tahun ini kita kembali di suguhi sinetron religi yang marak bermunculan di setiap bulan suci Ramadhan.
Dari sekian banyak, dari dulu Para Pencari Tuhan selalu jadi favorit. Rasanya ini adalah serial Ramadhan yang paling panjang yang pernah aku ikuti, kalau tidak salah sudah tujuh tahun, dulu pertama kali di tayangkan saat aku masih kuliah di semester akhir.

Sinema ini jadi favoritku dan sahabat kala itu, kami suka sekali dengan dialognya yang segar dan cerdas. Aku pribadi paling suka dengan scene antara Azam dan Aya. Mereka adalah gambaran pasangan yang ideal dimataku. Aya yang cerdas bisa mengimbangi Azam yang berkarakter kuat. Percakapan mereka selalu menginsiparasi.  Tokoh Azam adalah gambaran cowok keren versiku.

Buat kalian yang mengikuti sinema ini pasti juga mengenal sosok Kalila, orang ketiga di antara Azam dan Aya. Sosoknya menurutku adalah kebalikan dari sosok Aya. Tapi Azam tetap saja tergoda, ini menjadi gambaran bahwa dalahm sebuah hubungan kita memang tidak selamanya menyukai orang dengan tipikal sama.
Bahwa masalah hati tidak bisa di simpulkan dalam sebuah rumus, si pintar hanya akan menyukai si pintar, misalnya.

Cinta bisa jatuh dimana saja, kapan saja, bahkan saat sudah berdua. Kalila pernah hampir dinikahi Azam sebagai istri kedua, tapi batal tepat sebelum akad diucap. Kenapa? Saya lupa apa alasan persisnya, tapi rasanya karena akhirnya Kalila memutuskan dia tidak ingin menjadi orang ketiga di kehidupan sahabatnya, Aya. Walaupun sebenarnya dia masih mencintai Azam.

Scene tersebut sudah beberapa tahun yang lalu, dan tahun ini tokoh Kalila masih ada, dan masih di ceritakan sebagai seorang single. Entah apa pesan yang ingin di sampaikan sang sutradara melalui tokoh ini. Tapi Kalila sekarang dan dulu sudah berbeda, lebih matang dan tidak seceria dulu. Sepertinya patah hati pada Azam membuatnya berubah, tapi perasaannya untuk Azam masih juga belum berubah.

Begitukah cerminan semua kehidupan orang yang cintanya kandas tidak sampai ke pelaminan? Masih terus memikirkan orang di masa lalu, padahal yang difikirkan sudah punya kehidupannya sendiri dengan pasangan dan berbahagia. Sepertinya beberapa scene memang pernah diceritakan kalau Azam juga teringat Kalila, tapi hanya sesekali, karena dia sudah sibuk menjalani kehidupan dengan istrinya yang cantik dan anak mereka, sementara Kalila mengingat Azam sepanjang waktu sampai membuatnya tidak bisa melihat orang lain lagi.

Aku harap tahun ini Kalila mendapatkan jodohnya, agar Kalila-Kalila lain di luar sana bisa mengambil contoh. Bahwa mereka harus melanjutkan hidup, tidak seharusnya terjebak di masa lalu. Karena sesungguhnya percuma saja, toh Azam juga sudah berbahagia, dan Kalila juga berhak bahagia.

Semangat Kalila, dan Kalila-Kalila in the real life, You deserve to be happy 😍

Advertisements
Posted in Random Thing

Kenapa harus beda?

Hari kedua ramadhan, alhamdulilah masih bisa taraweh berjamaah di masjid, mudah mudahan begitu seterusnya.

Kali ini aku melaksanakan taraweh di masjid kota tegal, jamaahnya alhamdulilah terbilang cukup ramai.
Tapi setelah rakaat kedelapan tiba tiba banyak orang yang mundur dari shaf membawa sajadah mereka. Pulang.

Pemandangan ini jujur tidak biasa aku lihat, karena aku di besarkan di wilayah yang kebetulan sebagian besarnya adalah nahdatul ulama.
Kami menjalankan taraweh dan witir 23 rakaat.

Aku menghargai perbedaan. Dari dulu itu aku coba tanamkan dalam otakku.
Tapi saat secara langsung melihat dampak dari perbedaan yang sangat mencolok tadi, in this case aku tiba tiba melihat banyak jamaah berbondong bondong melewatiku untuk pulang. Aku tiba tiba berfikir, kenapa sih harus berbeda, apakah mereka yakin dengan apa yang mereka jalankan? Dan apakah aku juga yakin dengan yang aku jalankan?

Tidak juga, tapi simpel buatku, bukan masalah siapa yg benar dan salah, sampai saat ini pemahamanku berhenti pada pemikiran berikut :
rasanya lebih baik lebih daripada kurang

Ya, aku baru bisa memahami sesederhana itu.