Posted in Kuliner

Mie Ongklok Wonosobo

Bagi yang pernah berkunjung ke dataran tinggi Dieng pasti familiar dengan makanan ini.

Tampilannya hampir mirip mie ayam, hanya saja kuahnya kental dan tidak ada sayurannya seperti mie ayam.

Cocok lah dikonsumsi di dataran tinggi dieng yang berhawa cukup dingin.

Begini nih tampilannya.

image

Untuk harganya sendiri lupa berapa, tapi yang jelas sangat terjangkau kok.

Selamat mencoba.

Purwokerto, hari ke empat belas bulan ke empat

Advertisements
Posted in Kuliner

Sahoun Ayam, khas Purwokerto

Selama empat tahun kuliah di Purwokerto, baru sekarang aku sadar satu hal, ternyata masih banyak hal yang belum aku tahu tentang Purwokerto. Salah satu  adalah  kulinernya, ya wajar sih, waktu kuliah boro-boro mikirin wisata kuliner, bisa cukup makan tanpa mengandalkan mie instan saja sudah mewah. Hehe
Dulu pengetahuan kuliner hanya sebatas soto jalan bank dan mendoan sawangan. That’s it.

Sekarang, enam tahun kemudian, aku baru tahu kalau ada makanan khas Purwokerto yang namanya sahoun ayam, dari papan namanya sih mengklaim kalau makanan ini khas Purwokerto. Tapi agak heran juga, kenapa jarang yang jual ya? Bahkan menurut Ibu penjualnya ngga ada yang jual sahoun selain warungnya di Purwokerto. Apakah ini jenis species makanan baru? Whatever lah, yang penting sih enak. 🙂

Buat yang penasaran, sahoun ini mirip soup, cuma isinya ayam dan sahoun. Iyalah, wong namanya aja sahoun ayam 😁. Kalau ayam ngga usah di jelasin lagi kali ya, nah kalau sahoun ini apa sih? Menurut yang jual, sahoun ini di buat dari tepung beras sama tepung kanji. Pernah makan kwetiau goreng? Nah sahoun ini mirip kwetiau, hanya saja nggak panjang panjang tapi besar.

image

Cara penyajiannya mirip bikin soto, ayamnya di suwir-suwir, sahounnya di potong-potong memanjang, di campur kuah dan taburan daun bawang. Voila. Begini penampakannya.

image

Kuahnya bening, segar, cocok dimakan pas hujan. Maknyooos.
Buat yang suka pedes bisa di tambahin sambal.

image

Tertarik? Silahkan di coba, warungnya ada di daerah kaliputih sebelum lampu merah pertigaan arah Sokaraja.

Selamat mencoba :D😄

Posted in Jomblo Trip

Umroh Backpacker, kenekatan yang tak akan terlupakan

10611287_1603666619849067_533974299_n

Sejak saya kecil, sebagai seorang muslim, tentunya mengunjungi tanah suci adalah salah satu mimpi terbesar saya, tapi saat itu tidak terbayang kalau saya bisa mewujudkannya di usia muda, karena orang-orang di lingkungan saya tumbuh sebagian besar mengunjungi tanah suci saat sudah memasuki usia senja. Alhasil saya juga berfikir bahwa rasanya tidak mungkin saya bisa ke tanah suci di usia muda.

Sampai akhirnya di tahun 2012 saya baru tahu kalau ada yang namanya umroh backpacker, nah dari sanalah saya baru tahu bahwa ternyata bisa loh ke tanah suci dengan budget minimalis. Asiiik.

Dan mulailah saya mencari tahu lebih banyak mengenai umroh backpacker, dari bergabung dengan komunitas di media sosial, blog walking sampai bertanya langsung kepada orang-orang yang pernah menjalankan ibadah umroh dengan menggunakan program umroh backpacker. Sampai akhirnya yakinlah saya dengan salah satu agen travel yang menawarkan perjalanan umroh backpacker.

Passport sudah di buat, dana sudah mulai di siapkan, tapi, sama siapa nih berangkatnya? masa sendiri? mau ajak orangtua, uang nggak nyukup, beberapa teman sudah bersedia di bujuk untuk berangkat bareng, tapi malah berubah pikiran di tengah jalan. Berangkat sendiri nggak berani, kalau di perjalanan ada apa-apa gimana?

Ternyata niat saya tidak cukup kuat, nggak ada teman, akhirnya saya menunda rencana berangkat di 2013, sampai akhirnya, tiba-tiba di akhir 2014 saya merasa mantap untuk berangkat walaupun harus sendirian. Tanpa menunda saya langsung mendaftar untuk jadwal keberangkatan di bulan Maret 2015, cukup mendadak. Tapi saya tidak ingin menundanya lagi.

Keyakinan saya pada saat itu sangat sederhana, niat saya baik, insya alloh akan banyak orang baik yang membantu.

Tanpa ragu semua administrasi saya siapkan, pembayaran dilakukan via transfer, dokumen yang di butuhkan saya kirim via pos, agak nekat menurut teman-teman, karena saya tidak pernah bertemu langsung atau datang langsung ke kantor agen travel yang saya pakai, semua transaksi dan komunikasi via online.

Apa tidak takut penipuan? tentu saja saya takut, itu uang hasil nabung lama cuy. Tapi saat itu saya pasrah saja, saya tidak pernah nipu orang , mudah-mudahan nggak ada yang nipu saya, ya as simple as that pikiran saya saat itu.

Pembayaran sudah beres, selanjutnya tinggal nunggu visa umroh selesai di proses di kedutaan Saudi. Dan bagi yang belum tahu, untuk program umroh backpacker biasanya pihak travel tidak akan menanggung resiko biaya yang timbul jika sampai harus reschedule tiket apabila visa sampai ditolak.

Jadi saya cukup sport jantung saat H-3 keberangkatan visa masih belum juga turun. Sampai akhirnya kami baru mendapatkan visa pada H-1 keberangkatan, kebayang dong takutnya? Gila aja kalau sampai harus reschedule, duit dari mana buat bayar, belum lagi cuti yang sudah masuk ke atasan. Pokoknya rasanya deg degan banget pas nunggu kepastian visa. Tiket ke jakarta sudah di beli, baju sudah di koper, masa nggak jadi berangkat?

Alhamdulilahnya nggak sampai harus reschedule, pukul lima sore satu hari sebelum hari keberangkatan kami dapat kepastian kalau visa kami beres.

Cihuy. Langsung deh packing buat pulang kerumah karena hari itu memang saya masih masuk kerja.
Besok paginya baru kembali ke Purwokerto lagi karena memang saya menggunakan kereta menuju Jakarta.

And the journey’s begin..

Setibanya di Jakarta saya langsung menghubungi pihak travel dan menanyakan meeting point di soekarno hatta. Syukurlah karena lokasi mepo nggak susah di cari.
Tapi ternyata belum ada siapapun, seperti biasa saya selalu jadi orang pertama datang saat janjian -sedikit pencitraan-.

Tidak berapa lama perwakilan dari pihak travel sampai juga di bandara di susul kemudian rombongan keluarga dari Bogor dan rombongan lainnya. Total jamaah termasuk saya berjumlah 25 orang, dimana rata-rata adalah rombongan keluarga, hanya saya dan seorang bapak yang berangkat sendirian. Awalnya saya sedikit khawatir, mengingat saya berangkat sendiri, jangan-jangan nanti dicuekin.

Untung saja kekhawatiran saya keliru, begitu bertemu mereka langsung ramah menyapa, karena memang sebelumnya beberapa dari kami sudah saling memperkenalkan diri di grup bbm yang memang dibuat untuk saling berkenalan, mengingat nantinya pada saat perjalanan kami tidak akan di dampingi pihak travel jadi sangat penting untuk kami saling mengenal satu sama lain.

Dari empat rombongan yang ada, saya lebih banyak bergabung dengan pasangan suami istri yang kebetulan saya di mahramkan dengan si bapak tersebut.

Setelah jamaah lengkap, pihak travel langsung memberikan briefing singkat terkait teknis perjalanan hingga sampai di Jeddah nanti. Dulu salah satu alasan saya menunda umroh saat tidak ada teman yang mau di ajak berangkat bareng adalah saya takut kalau dalam perjalanan saya akan mengalami kebingungan karena kebetulan belum pernah ke luar negeri.

Tapi buat kamu semua, jangan khawatir, karena walaupun tidak ada pendamping dari Indonesia selama perjalanan, akan ada salah satu jamaah yang akan di tunjuk sebagai ketua rombongan. -biasanya ketua rombongan akan mendapat diskon harga khusus dari pihak travel looh-

Pukul 22.00 WIB kami satu rombongan take off menuju Singapura, ya kami memang akan transit ke beberapa negara, karena dengan budget minimalis, tentunya kami menggunakan penerbangan low cost carrier dan pastinya bukan penerbangan langsung dari Jakarta – Jeddah.

Seperti apa perjalanan kami menuju Jeddah? Saya akan ceritakan di posting selanjutnya ya…

imageSelf foot sebelum take off menuju ChangiSelf foot sebelum take off menuju Changi
Self foot sebelum take off menuju Changi
Posted in Jomblo Trip

Dieng Plateu, Dataran Tinggi Tempat Para Dewa

20150402_144105

Kalau ada yang mengira kalau foto di atas ada di luar pulau Jawa, tet tot, kalian salah, tidak perlu jauh-jauh ke luar Jawa untuk bisa menikmati pemandangan di atas, kamu bisa datang ke Dataran tinggi Dieng di Wonosobo, Jawa tengah.

Foto di ambil dari batu pandang, lokasinya dekat dengan Dieng Plateu Theater, sedikit menanjak untuk mencapai tempat ini, tapi sangat setimpal dengan view yang kita dapatkan. Telaga warna akan lebih terlihat cantik dilihat dari ketinggian.

Oya, kalau bisa kunjungi tempat ini saat weekday, karena pasti akan antri kalau kalian berkunjung saat weekend, mengingat batu yang di pakai untuk berfoto cukup kecil. Saya sendiri kemarin harus antri untuk mengambil view ini dengan beberapa rombongan yang lain.

Dan kebetulan sedang ada pengambilan gambar untuk sebuah acara traveling dari salah satu stasiun televisi.

Mba pembawa acara jalan-jalan :) *gaktaunamanya
Mba pembawa acara jalan-jalan 🙂 *gaktaunamanya 🙂

Selain menikmati pemandangan alam pegunungan, salah satu tempat yang harus di kunjungi saat di Dieng adalah Dieng Plateu Theatre, disini kalian akan di suguhi film dokumenter berdurasi sekitar 40 menit tentang sejarah erupsi yang pernah terjadi di pegunungan Dieng. 20150402_141912

Selamat menjelajah nusantara kawan.