Posted in Random Thing

Fall in love with people we can’t have

Bekerja dengan teman yang usianya diawal dua puluhan terkadang akan banyak mendengar cerita-cerita galau tentang percintaan yang penuh drama. Halah.

Banyak yang kadang dari obrolan ringan lalu tiba-tiba jadi ajang curhat dan konsultasi, tentang pacar, keluarga bahkan rumah tangga, padahal mah kitanya juga baru nikah dengan usia pernikahan yang nggak jauh beda. Ha ha ha.

Ada hal menarik dari percakapan hari ini dengan salah satu teman, sebut saja Mawar 😎, yang ingin aku simpan dalam bentuk tulisan.

Dari obrolan ringan tentang pekerjaan, lama-lama tentang pacar yang katanya kurang perhatian. Uhuk.

Mawar bercerita kalau sikap si pacar dirasa terlalu cuek, kurang perhatian gitu deh, dia membandingkan dengan sikap teman mainnya yang kebetulan cowok dan jauh lebih perhatian dibandingkan si pacar. Eng ing eng.

Kata Aa Nicholas mah, berawal dari simpati, lalu empati, jatuh hati deh. So cliche.

Sederhananya sih, ya udah sih, putusin si pacar, jadian sama si temen tapi demen tadi.

Tapi namanya drama nggak akan ada yang se-simple itu Esperanza. He he he

Segala macam pertimbangan nggak masuk akal kaya nggak enak sama keluarga lah, nggak mau diputusin lah, jadi excuse untuk tetap mencoba mempertahankan hubungan.

Lalu aku hanya berperan sebagai pendengar yang sok bijaksana, memberikan masukan-masukan yang aku yakin nggak akan dilakukan juga.

Then I realize one thing, oh my god, i have been there, done that.

Ha ha ha

Pada masanya, akupun pernah berulang kali curhat about one person, one case, and one solution but I’ve never listened. Repeatedly. 😂😂

Mungkin memang benar, kalau menasehati orang yang sedang jatuh cinta adalah pekerjaan yang sia sia. 😁

Lalu aku hanya bisa menyampaikan satu hal pada temanku, sometime, our biggest regret in life is about something that we didn’t do rather than something we do.

Fall in love with people we can’t have is never easy, but at least try to make it happen.

Halah. Teori aja jagonya 😂

Advertisements
Posted in Random Thing

Why people should Diet?

When I was on senior high school, I have a friend who always worried about her weight, at that time I was like “ya elah sist, ribet amat idupnya segala obat pelangsing diminum” .

Kenapa, karena saat itu aku masih langsing, alhamdulilah aku melewati masa remaja tanpa memusingkan urusan berat badan.

Pertama kali ngeh dengan berapa berat badan sendiri ya pas daftar universitas dimana ada rangkaian tes kesehatan yang harus dijalani. Aku ingat sekali berat badanku 45 kg.

Kalau nginget itu suka ngga yakin sendiri,

“gile berarti BB aku sekarang meroket banget dong ya,, ahahaha” 😂😂

Sewaktu kuliah perlahan tapi pasti berat badanku merangkak naik, sepertinya karena kerjaanku saat semester awal dulu ya cuma kampus-makan-kosan. Nggak imbang antara yang masuk dan keluar, jadinya numpuk lemaknya.

Saat itulah inisiatif diet mulai muncul dikepala, yang sayangnya nggak diimbangi dengan tekad yang kuat jadinya ya cuma sekedar wacana saja.

Begituuu seterusnya sampai lulus kuliah, lalu kerja kemudian menikah. Nggak ada sejarahnya aku turun BB, selalu naik.

Kenapa, ya karena rencana-rencana diet yang diwacanakan nggak diimbangi dengan motivasi yang kuat apalagi ilmu yang cukup.

Lalu sampai beberapa bulan lalu, disaat pernikahan sudah melewati usia dua tahun dan belum ada tanda kehamilan, aku dan suami memutuskan untuk konsultasi dengan dokter.

Sebelum ke dokter sebetulnya sudah sempat nanya-nanya teman, dan dari info mereka aku tau kalau beberapa dokter akan menyarankan diet bagi calon ibu yang dianggap overweight, aku awalnya memandang positif info tersebut.

“Sekalian deh, kalau disuruh diet sama dokter jadinya punya motivasi kuat buat diet, dari dulu kan gagal terus dietnya”

Lalu kami membuat janji temu dengan dokter kandungan yang recomended spesialisasi fertilitas. Tujuannya ingin tau apakah kami sehat atau tidak.

Seperti dugaan, dokter menyarankan kami untuk menjaga pola makan. Karena pola makan yang buruk sangat berpengaruh pada kualitas kesehatan termasuk reproduksi.

Walaupun sudah menebak kalau akan mendapat masukan untuk melakukan diet, tapi proses konsultasinya benar benar bikin nangis, aku berasa kaya lagi diomelin bapak sendiri karena sudah melakukan kesalahan.

In this situation, the doctor menceramahiku panjang lebar dengan tegasnya tentang kondisi berat badanku yang overweight.

Maluuuu rasanya. Sedih juga.

Tapi paling tidak itu jadi motivasi besar buatku untuk benar-benar memperbaiki pola makan. Aku beli buku-buku tentang diet dan pola makan sehat. Aku tonton chanel youtube yang membahas tentang diet dan kesehatan.

Pemahaman baru tentang pola makan yang baik dan benar ini cukup membantuku menahan keinginan untuk makan sembarangan. Hasilnya cukup memuaskan, for the first time in my life, I lost weight.

Nggak langsung banyak sih, but I am soooo happyýyy. 😍